A g e n d a /FT Unilak
  STATISTIK /FT Unilak
  • Dikunjungi oleh : 99916 user
  • IP address : 54.198.58.62
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • STUDY LAPANGAN PRODI ARSITEKTUR DI DESA RANTAU BAIS
STUDY LAPANGAN PRODI ARSITEKTUR DI DESA RANTAU BAIS

Rabu,05 April 2017

Mata Kuliah Arsitektur Melayu merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa Prodi Arsitektur Fakultas Teknik - Universitas Lancang Kuning. Mata kuliah ini berorientasi kepada kemampuan mahasiswa untuk menjadikan arsitektur Melayu sebagai pertimbangan desain yang bersifat lokalitas. Pada Rencana Program dan Kegiatan Pembelajaran Mata Kuliah Arsitektur Melayu sudah di agendakan untuk melakukan study lapangan. Dalam pelaksanaannya studi lapangan  dilakukan di Desa Rantau Bais Kecamatan Tanah Putih Kabupaten Rokan Hilir.

Pelaksanaan study lapangan dilakukan pada tanggal 02 s/d 04 Desember 2016, dengan jumlah mahasiswa 53 orang yag terdiri dari mahasiswa Mata kuliah Arsitektur Melayu kelas A sejumlah 31 orang dan kelas B sejumlah 22 orang dengan tujuan Kepenghuluan Rantau Bais dan Bagan Siapiapi.

Sejarah Desa Rantau Bais merupakan Pemerintah yang diletakkan oleh Raja Tambusai yang di pimpin oleh Sultan Said Abidin pada tahun 1883 saat meletusnya Gunung Krakatau di Lampung yang memiliki hubungan dengan Desa Kepenuhan Rokan Hulu dan Tanah Putih merupakan batas kerajaan Siak.

Sejarah dan asal usul desa kampung Rantau Bais sudah ada di tempati tahun 1900 rata rumah yang berdiri tahun 1922 sedangkan rumah yang arah ke Hulu tahun 1934, tukangnya dari Singapura dan Malaysia yang merupakan orang Cina.

Ruslan dapat cerita dari kakek dan ayahnya kalau uang bangun rumah tradisional ini didapat dari Belanda. Namun uang tersebut bukan dari uang sen yang ditembakkan meriam berat milik Belanda saat melawan Tuanku Tambusai di Benteng Aur Duri. “Uangnya didapat dari kopun,” kata Ruslan. Kopun adalah uang pengganti yang diberikan Belanda setelah ditukar dengan pohon karet milik rakyat.

“Nah orang Melayu kita ini kan pintar,” sebut Ruslan. Maksud Ruslan, kebiasaan orang Melayu dulu suka berpindah rumah. Sehingga pohon karetnya rata-rata tak hidup. Namun di celah-celah karet tumbuh mahang. Mahang adalah kayu bergetah mirip pohon karet.

“Dikaplinglah mahang itu. Belanda kira karet, makanya kita dapat banyak uang dari Belanda,” cerita Ruslan. Uang itulah yang dipakai untuk bikin rumah beserta ukirannya. “Ahli ukirnya orang Cina,” katanya.

Masyarakat Tionghoa (Cina) pada mulanya datang ke Bagansiapi-api—sekitar dua jam perjalanan darat dari Rantau Bais. Diduga orang Tionghoa tersebut yang mengukir rumah tradisional di sini. “Mungkin ada juga didatangkan dari Singapura atau Malaysia,” kata Ruslan.

Menurut situs bagansiapi-api.net, pada mulanya sekelompok masyarakat, sekitar 18 orang, datang ke Bagansiapi-api untuk meningkatkan kualitas hidup. Mereka menyeberangi lautan dengan kapal kayu sederhana dari Propinsi Fujian, Cina.

Saat menyeberangi lautan pada suatu malam, mereka melihat sebuah cahaya samar-samar. Mengira itu adalah daratan, mereka mengikuti arah cahaya hingga tiba di daratan Selat Malaka. Mereka mendapat banyak ikan laut dan menangkapnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lantas mereka bertahan hidup di sana. Merasa menemukan tempat tinggal yang baik, ke-18 orang tadi mengabari sanak famili di Tiongkok untuk datang ke Bagansiapi-api.

Suku yang ada di Rantau Bais:

  1.  Suku Kuti
  2. Suku Ampusilok
  3. Suku Ampu melenggang
  4. Suku Setia Pahlawan
  5. Suku Ampu Karang
  6. Suku Melayu
  7. Suku Kandang Kopuh